Aku
sadar ini bukan akibat dari kejenuhan. Jenuh itu ada, dan jenuh itu
bisa dirasakan ketika seseorang yg mengalami jenuh tidak dapat lagi
merasakan kenyamanan. Yg sifatnya sementara atau seterusnya. Semua
tergantung pada pilihan dimana kita harus mencintai dari sendiri, atau
tetap menjadi seseorang yg hebat menyembunyikan perasaannya.
Ratusan alasan dari berbagai makhluk hidup terlontar mengapa ia jenuh.
Jawabannya bagiku hanya satu, ia tidak dapat brrdiri lagi dan berdiri
diatas duri pun tidak akan terasa sakitnya.
Stay or leave. Hanya
dua pilhan. Tapi otak ini bahkan hati tidak dapat lagi menentukan.
Semua telah pudar. Bahkan malaikat" kecil yang sedaritadi mengelilingiku
pergi dengan pelannya. TIDAK.
Apalagi yang terjadi. Tubuh dimana raga ini berada, jatuh seketika. Aku benci sendiri. Aku tak bisa sendiri.
Tuhan.. Apa yang akan kau lakukan lagi. Tubuh ini tidak berdaya,. Tak
dapat ku rasakan apa" lagi. Semua hitam. Dan memaksaku memejamkan mata.
Aku terpejam. Hanya ada yang tersisa yaitu airmata.
Bayang
bayang itu. Aku melihatnya. Walo tak begitu jelas. Tapi ada setitik
cahaya disana, yang membawa tubuh ini untuk kesana. Ku dapat dia, tapi
semakin dekat bayang itu semakin samar. " kamu tidak sendiri, ada aku"
hanya itu yang terdengar jelas. Angin yg begitu kencang tiba tiba
berhenti , seolah olah membuat ku untuk mendengar suara itu dengan
seksama.
Kurasakan sakit diotakku. Aku depresi. Tidak. Bayangan
itu memaksaku mengingat 965 hari yg lalu. Ku coba bertahan. Tapi tak
bisa. Rasa takut itu meracuni otakku lagi. Tapi bayangan ituu. Lagi lagi
bayangan itu. Namun hatiku meyakinkanku untuk meloncat ke 965 hari
yang lalu. Jujur hatiku.
Aku merasakan kedamaian, sampai kulupa
untuk mrmbuka mataku. Kurasakan semakin kurasakan kebahagian itu. Kedua
tanganku tiba" kuangkat dengan sendirinya. Kurasakan tetesan hujan.
Semakin kurasakan. Ku menari disana. Jatuhpun sampai tak sempat
kurasakan. Aku bahagia.
Tuhan. Ijinkan aku untuk berada disini. Aku bahagia.
Ku buka mata ini, aku melihatnya. Ya bayangan itu. Tapi tak brrcahaya
tapi memudar. Hujan pun berhenti. Ku teriak sekencang"nya. Ku coba lari
mengejar bayangan itu. Tapi ku tak dapat. Aku kehilangan arah.
Waktu berlalu begitu lambat, memasukanku makin
dalam ke pusaran air lava yang membakar warna
yang pernah terpancar dari mata ini
.
Aku masih muda, apakah pantas aku terima bakaran
ini?
Kenapa tak sekalian saja tampar aku? Tendang injak
wajahku ke tanah?
Atau diagnosa aku dengan penyakit terparah vonis
aku mati 2-3 bulan lagi?
Tuhan ijinkan aku pingsan lagi, ijinkan aku tidur dalam
mimpi.
Ijinkan aku terbang jauh dalam dunia khayalan.
Ijinkan aku lupa, dan ijinkan aku masuk ke 965 hari yang lalu lagi walo takan pernah nyata lagi.
Tapi TIDAK.
Sepertinya aku mendengar suara Tuhan yang
menggema di dinding2 organ jantung dan paru-
paruku. Tapi ku salah. Kali ini bukan tuhan tapi bayang bayang itu. Tak
sempat ku mendengar dengan jelas. Karena hati ini merasa tak kuat
menerimanya. suara itu sangat jauh dan samar.
Mungkin kata-Nya, “kau tidak akan mati, aku akan
membakarmu di neraka dunia ini, tapi kau akan
bertahan….dan kau akan….” suara bayang itu menghilang. Menghilang dengan semaunya.
Dan ku melayang terbang tinggi. Dengan membawa harapan kau akan mengerti ini. Tanpa ku tak sempat mengucapkan ku rindu padamu.
mungkin setitik cahaya dari bayangam itu yang mendorong kaki
dan jiwaku dengan tiupan angin yang tak terlihat dan
tak terasa. Meniupkan sehembus nyawa demi nyawa.
Tetap defisit namun ajaib, karena aku tetap bisa
hidup.
Walo cintaku tak tersela
matkan, tapi aku percaya dengan wish yang
selalu diucapkan ketika datang hujan, New smile itu akan kembali
menuntunku menuju new horizon. Dan rasa itu akan tetap sama seperti 965
hari yang lalu.
#1april. :'')
Fiteriana.