Jumat, 07 Agustus 2015

ku ingin kembali ke 965 hari yang lalu.

Aku sadar ini bukan akibat dari kejenuhan. Jenuh itu ada, dan jenuh itu bisa dirasakan ketika seseorang yg mengalami jenuh tidak dapat lagi merasakan kenyamanan. Yg sifatnya sementara atau seterusnya. Semua tergantung pada pilihan dimana kita harus mencintai dari sendiri, atau tetap menjadi seseorang yg hebat menyembunyikan perasaannya.

Ratusan alasan dari berbagai makhluk hidup terlontar mengapa ia jenuh. Jawabannya bagiku hanya satu, ia tidak dapat brrdiri lagi dan berdiri diatas duri pun tidak akan terasa sakitnya.
Stay or leave. Hanya dua pilhan. Tapi otak ini bahkan hati tidak dapat lagi menentukan. Semua telah pudar. Bahkan malaikat" kecil yang sedaritadi mengelilingiku pergi dengan pelannya. TIDAK.
Apalagi yang terjadi. Tubuh dimana raga ini berada, jatuh seketika. Aku benci sendiri. Aku tak bisa sendiri.
Tuhan.. Apa yang akan kau lakukan lagi. Tubuh ini tidak berdaya,. Tak dapat ku rasakan apa" lagi. Semua hitam. Dan memaksaku memejamkan mata. Aku terpejam. Hanya ada yang tersisa yaitu airmata.
Bayang bayang itu. Aku melihatnya. Walo tak begitu jelas. Tapi ada setitik cahaya disana, yang membawa tubuh ini untuk kesana. Ku dapat dia, tapi semakin dekat bayang itu semakin samar. " kamu tidak sendiri, ada aku" hanya itu yang terdengar jelas. Angin yg begitu kencang tiba tiba berhenti , seolah olah membuat ku untuk mendengar suara itu dengan seksama.
Kurasakan sakit diotakku. Aku depresi. Tidak. Bayangan itu memaksaku mengingat 965 hari yg lalu. Ku coba bertahan. Tapi tak bisa. Rasa takut itu meracuni otakku lagi. Tapi bayangan ituu. Lagi lagi bayangan itu. Namun hatiku meyakinkanku untuk meloncat ke 965 hari yang lalu. Jujur hatiku.
Aku merasakan kedamaian, sampai kulupa untuk mrmbuka mataku. Kurasakan semakin kurasakan kebahagian itu. Kedua tanganku tiba" kuangkat dengan sendirinya. Kurasakan tetesan hujan. Semakin kurasakan. Ku menari disana. Jatuhpun sampai tak sempat kurasakan. Aku bahagia.
Tuhan. Ijinkan aku untuk berada disini. Aku bahagia.
Ku buka mata ini, aku melihatnya. Ya bayangan itu. Tapi tak brrcahaya tapi memudar. Hujan pun berhenti. Ku teriak sekencang"nya. Ku coba lari mengejar bayangan itu. Tapi ku tak dapat. Aku kehilangan arah.
Waktu berlalu begitu lambat, memasukanku makin
dalam ke pusaran air lava yang membakar warna
yang pernah terpancar dari mata ini
.
Aku masih muda, apakah pantas aku terima bakaran
ini?
Kenapa tak sekalian saja tampar aku? Tendang injak
wajahku ke tanah?
Atau diagnosa aku dengan penyakit terparah vonis
aku mati 2-3 bulan lagi?
Tuhan ijinkan aku pingsan lagi, ijinkan aku tidur dalam
mimpi.
Ijinkan aku terbang jauh dalam dunia khayalan.
Ijinkan aku lupa, dan ijinkan aku masuk ke 965 hari yang lalu lagi walo takan pernah nyata lagi.
Tapi TIDAK.
Sepertinya aku mendengar suara Tuhan yang
menggema di dinding2 organ jantung dan paru-
paruku. Tapi ku salah. Kali ini bukan tuhan tapi bayang bayang itu. Tak sempat ku mendengar dengan jelas. Karena hati ini merasa tak kuat menerimanya. suara itu sangat jauh dan samar.
Mungkin kata-Nya, “kau tidak akan mati, aku akan
membakarmu di neraka dunia ini, tapi kau akan
bertahan….dan kau akan….” suara bayang itu menghilang. Menghilang dengan semaunya.
Dan ku melayang terbang tinggi. Dengan membawa harapan kau akan mengerti ini. Tanpa ku tak sempat mengucapkan ku rindu padamu.

mungkin setitik cahaya dari bayangam itu yang mendorong kaki
dan jiwaku dengan tiupan angin yang tak terlihat dan
tak terasa. Meniupkan sehembus nyawa demi nyawa.
Tetap defisit namun ajaib, karena aku tetap bisa
hidup.
Walo cintaku tak tersela
matkan, tapi aku percaya dengan wish yang selalu diucapkan ketika datang hujan, New smile itu akan kembali menuntunku menuju new horizon. Dan rasa itu akan tetap sama seperti 965 hari yang lalu.
‪#‎1april‬. :'')
Fiteriana.